mengapa ibadah ritual harus sejalan dengan ibadah sosial

Mengapaibadah ritual harus sejalan dengan ibadah sosial?jelaskan! - 34760481 syahrulridwantb syahrulridwantb 19.10.2020 B. Arab Sekolah Menengah Atas terjawab Mengapa ibadah ritual harus sejalan dengan ibadah sosial?jelaskan! 1 Lihat jawaban Iklan Iklan nilna7793 nilna7793 Jawaban: supaya ibadah tersebut dapat diterima. maaf kalo salah. Iklan Nilaikedua ibadah, baik ritual dan sosial sama-sama urgen dan penting dalam pandangan Islam. Keduanya perlu dan bahkan wajib dilakukan oleh setiap muslim yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Betapa signifikan kedua ibadah itu dalam Islam tergambar di berbagai ayat Al-Qur'an yang senantiasa menyandingkan kewajiban mendirikan ibadah shalat AlMaun - Baca Nurawala. Memotret Relasi Ibadah Ritual dan Ibadah Sosial dalam QS. Al-Maun. "Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah Ibadahritual yang kita lakukan harus merefleksikan sebuah kegiatan-kegiatan yang memberikan pencerahan dan kegiatan penyegaran kepada lingkungan masyarakat. Sholat kita, puasa kita, zakat kita, dzikir kita, tahlil kita tilawah Qur'an kita hendaklah memberikan dampak pengaruh social dalam kehidupan kita. Untuk itulah Rasulullah SAW menyatakan Suatuketika saya berdiskusi dengan salah seorang teman sekantor ikhwal shalat dan ibadah sosial. Teman saya itu, bertanya, ''Bagaimana aspek sosial dari ibadah shalat?'' Dia merasa bahwa ritual shalat hanya bersifat vertikal, antara manusia dengan Allah SWT (Hamblumminallah).Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita mengkajinya melalui Alquran. Site De Rencontre Gratuit Non Payant Serieux Sans Inscription. KH Ahmad Mustofa Bisri pernah mempopulerkan istilah saleh ritual dan saleh sosial. Yang pertama merujuk pada ibadah yang dilakukan dalam konteks memenuhi haqqullah dan hablum minallah seperti shalat, puasa, haji dan ritual lainnya. Sementara itu, istilah saleh sosial merujuk pada berbagai macam aktivitas dalam rangka memenuhi haqul adami dan menjaga hablum minan nas. Banyak yang saleh secara ritual, namun tidak saleh secara sosial; begitu pula Mus tentu tidak bermaksud membenturkan kedua jenis kesalehan ini, karena sesungguhnya Islam mengajarkan keduanya. Bahkan lebih hebat lagi; dalam ritual sesungguhnya juga ada aspek sosial. Misalnya shalat berjamaah, pembayaran zakat, ataupun ibadah puasa, juga merangkum dimensi ritual dan sosial sekaligus. Jadi, jelas bahwa yang terbaik itu adalah kesalehan total, bukan salah satunya atau malah tidak dua-duanya. Kalau tidak menjalankan keduanya, itu namanya kesalahan, bukan kesalehan. Tapi jangan lupa, orang salah pun masih bisa untuk menjadi orang saleh. Dan orang saleh bukan berarti tidak punya saat yang sama, kita harus akui seringkali terjadi dilema dalam memilih skala prioritas. Mana yang harus kita utamakan antara ibadah atau amalan sosial. Pernah di Bandara seorang kawan mengalami persoalan dengan tiketnya karena perubahan jadual. Saya membantu prosesnya sehingga harus bolak balik dari satu meja ke meja lainnya. Waktu maghrib hampir habis. Kawan yang ketiga, yang dari tadi diam saja melihat kami kerepotan, kemudian marah-marah karena kami belum menunaikan shalat maghrib. Bahkan ia mengancam, “Saya tidak akan mau terbang kalau saya tidak shalat dulu”. Saya tenangkan dia, bahwa sehabis check in nanti kita masih bisa shalat di dekat gate, akan tetapi kalau urusan check in kawan kita ini terhambat maka kita terpaksa meninggalkan dia di negeri asing ini dengan segala kerumitannya. Lagi pula, sebagai musafir kita diberi rukhsah untuk menjamak shalat maghrib dan isya’ nantinya. Kita pun masih bisa shalat di atas pesawat. Kawan tersebut tidak mau terima baginya urusan dengan Allah lebih utama ketimbang membantu urusan tiket kawan yang lain. Saya harus membantu satu kawan soal tiketnya dan pada saat yang bersamaan saya harus adu dalil dengan kawan yang satu lagi. Tiba-tiba di depan saya dilema antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial menjadi Yusuf al-Qaradhawi mencoba menjelaskan dilema ini dalam bukunya Fiqh al-Awlawiyat. Beliau berpendapat kewajiban yang berkaitan dengan hak orang ramai atau umat harus lebih diutamakan daripada kewajiban yang berkaitan dengan hak individu. Beliau juga menekankan untuk prioritas terhadap amalan yang langgeng istiqamah daripada amalan yang banyak tapi terputus-putus. Lebih jauh beliau berpendapat “Fardhu ain yang berkaitan dengan hak Allah semata-mata mungkin dapat diberi toleransi, dan berbeda dengan fardhu ain yang berkaitan dengan hak hamba-hamba-Nya. Ada seorang ulama yang berkata, "Sesungguhnya hak Allah dibangun di atas toleransi sedangkan hak hamba-hamba-Nya dibangun di atas aturan yang sangat ketat." Oleh sebab itu, ibadah haji misalnya, yang hukumnya wajib, dan membayar utang yang hukumnya juga wajib; maka yang harus didahulukan ialah kewajiban membayar utang.” Ini artinya, untuk ulama kita ini, dalam kondisi tertentu kita harus mendahulukan kesalehan sosial daripada kesalehan ritual. Kita juga dianjurkan untuk mendahulukan amalan yang mendesak daripada amalan yang lebih longar waktunya. Misalnya, antara menghilangkan najis di masjid yang bisa mengganggu jamaah yang belakangan hadir, dengan melakukan shalat pada awal waktunya. Atau antara menolong orang yang mengalami kecelakaan dengan pergi mengerjakan shalat Jum'at. Pilihlah menghilangkan najis dan menolong orang yang kecelakaan dengan membawanya ke Rumah Sakit. Sebagai petugas kelurahan, mana yang kita utamakan shalat di awal waktu atau melayani rakyat yang mengurus KTP terlebih dahulu? Atau mana yang harus kita prioritaskan di saat keterbatasan air dalam sebuah perjalanan menggunakan air untuk memuaskan rasa haus atau untuk berwudhu'. Wudhu' itu ada penggantinya, yaitu tayammum. Tapi memuaskan haus tidak bisa diganti dengan batu atau debu. Begitu juga kewajiban berpuasa masih bisa di-qadha atau dibayar dengan fidyah dalam kondisi secara medis dokter melarang kita untuk berpuasa. “Fatwa” dokter harus kita utamakan dalam situasi ini. Ini artinya shihatul abdan muqaddamun ala shihatil adyan. Sehatnya badan diutamakan daripada sehatnya agama. Dalam bahasa Abdul Muthalib, kakek Rasulullah, di depan pasukan Abrahah yang mengambil kambing dan untanya serta hendak menyerang Ka’bah “Kembalikan ternakku, karena akulah pemiliknya. Sementara soal Ka’bah, Allah pemiliknya dan Dia yang akan menjaganya!” Sepintas terkesan hewan ternak didahulukan daripada menjaga Ka’bah; atau dalam kasus tiket di atas seolah urusan shalat ditunda gara-gara urusan pesawat; atau keterangan medis diutamakan daripada kewajiban berpuasa. Inilah fiqh prioritas!Syekh Yusuf al-Qaradhawi juga menganjurkan untuk prioritas pada amalan hati ketimbang amalan fisik. Beliau menulis“…Kami sangat heran terhadap konsentrasi yang diberikan oleh sebagian pemeluk agama, khususnya para dai yang menganjurkan amalan dan adab sopan santun yang berkaitan dengan perkara-perkara lahiriah lebih banyak daripada perkara-perkara batiniah; yang memperhatikan bentuk luar lebih banyak daripada intinya; misalnya memendekkan pakaian, memotong kumis dan memanjangkan jenggot, bentuk hijab wanita, hitungan anak tangga mimbar, cara meletakkan kedua tangan atau kaki ketika shalat, dan perkara-perkara lain yang berkaitan dengan bentuk luar lebih banyak daripada yang berkaitan dengan inti dan ruhnya. Perkara-perkara ini, bagaimanapun, tidak begitu diberi prioritas dalam agama ini.”Dengan tegas beliau menyatakan“Saya sendiri memperhatikan -dengan amat menyayangkan- bahwa banyak sekali orang-orang yang menekankan kepada bentuk lahiriah ini dan hal-hal yang serupa dengannya -Saya tidak berkata mereka semuanya- mereka begitu mementingkan hal tersebut dan melupakan hal-hal lain yang jauh lebih penting dan lebih dahsyat pengaruhnya. Seperti berbuat baik kepada kedua orangtua, silaturahim, menyampaikan amanat, memelihara hak orang lain, bekerja yang baik, dan memberikan hak kepada orang yang harus memilikinya, kasih-sayang terhadap makhluk Allah, apalagi terhadap yang lemah, menjauhi hal-hal yang jelas diharamkan, dan lain-lain sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang beriman di dalam kitab-Nya, di awal surah al-Anfal, awal surah al-Mu'minun, akhir surah al-Furqan, dan lain-lain.”Kesalehan ritual itu ternyata bertingkat-tingkat. Kesalehan sosial juga berlapis-lapis. Dan kita dianjurkan dapat memilah mana yang kita harus prioritaskan sesuai dengan kondisi dan kemampuan kita menjalankannya. Wa Allahu a’lam Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School Jauh sebelum dilahirkan ke dunia, manusia telah melakukan semacam “kontrak pengabdian” dengan Tuhan Yang Maha Esa di alam ruh. Peristiwa yang terjadi di alam ruh itu ialah kesaksian dan perjanjian antara manusia sebagai hamba dengan Tuhan sebagai pencipta. Meskipun dalam perjalanan hidupnya manusia sering acuh akan perjanjian itu. Acuh terhadap ibadah ritual dan ibadah sosial. Ibadah Ritual dan Ibadah Sosial Pengejawantahan dari janji tersebut ialah mealaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi larangan Tuhan. Oleh sebab itu, manusia mulai berlomba melakukan kebaikan sebagai bukti kepatuhan kepada Tuhan. Maka tak heran di berbagai tempat banyak kita jumpai kegiatan berbau agama yang dengan beragam sebutan atau nama perkumpulannya. Masyarakat yang mengaku sadar agama semakin kreatif dalam melakukan berbagai aktivitas ritual ibadah sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan. Mereka berlomba–lomba melakukan berbagai kegiatan keagamaan walaupun kadang–kadang terkesan memaksakan diri dan mengundang pertanyaan. Terkadang juga semangat beragama yang tinggi tidak selalu linier dengan akhlak pelakunya. Misalnya ada yang rajin berzikir tetapi di lain kesempatan kata-kata kotor juga memenuhi mulutnya. Orang seperti ini hanya mampu olah zikir tapi tak mampu olah pikir. Bahkan seorang penghafal Al-Qur’an pun belum tentu mampu menerjemahkan keindahan nilai-nilai moral yang ada dalam kitab suci itu ke dalam perilakunya. Banyak yang pandai melantunkan ayat-ayat suci tetapi sayangnya kesucian dan keindahan nilai yang dikandungnya hanya sampai di tenggorokan saja. Sebuah peristiwa yang tercatat dalam sejarah yaitu, seseorang yang menghabisi nyawa sahabat sekaligus menantu tercinta sang Nabi adalah seorang penghafal Al-Qur’an dan ahli ibadah. Ini adalah bukti nyata paradoks antara kesahalehan ritual dan keshalehan sosial. Fenomena tersebut mengingatkan saya pada ucapan seorang teman; “tidak semua yang berzikir itu mampu menggunakan akal sehatnya. Banyak yang kelihatannya berzikir tetapi nalarnya tidak berfungsi”. Saya mencoba memahami maksud ucapannya, ternyata kalau direnungkan ada benarnya juga, karena untuk bertindak benar tidak cukup hanya memaksimalkan zikir tetapi harus memadukan akal sehat. Kesenjangan Ibadah Ritual dan Sosial Ibadah zikir di kalangan masyarakat modern telah menjadi semacam wisata spiritual. Yang dilakukan hanya untuk menghilangkan dahaga setelah menjalankan rutinitas dunia yang semakin sibuk. Padahal sesungguhnya zikir adalah sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, bukan untuk menghilangkan dahaga. Ketika zikir yang dilakukan secara berjamaah dalam suatu majelis jelas terlihat hujan tangis, suara lirih, dan ekpresi penyesalan tumpah ruah ketika suatu jamaah berkumpul. Namun berbanding terbalik ketika berada dalam kesendirian. Nafsu keduniawian kembali bergejolak dan menari-nari dalam dirinya. Kesenjangan antara ibadah ritual dan ibadah sosial terjadi sebab kegagalan kita memahami pesan-pesan Tuhan dalam kitab suci ketika hendak menjalankan ibadah. Padahal agama sendiri mengajarkan agar memaksimalkan potensi akal sebelum berbuat. Kita wajib berusaha memahami cara dan pendekatan Tuhan dalam menuntun hamba-Nya menuju kebenaran. Tuhan seringkali memberi pesan agar kita selalu menggunakan nalar ketika hendak menjalankan suatu perintah. Dalam beberapa ayat, Tuhan menggunakan gaya bahasa bertanya di akhir ayat dengan kalimat “Apakah kalian tidak berakal?” dan beberapa kata yang maknanya sama. Ini membuktikan bahwa menilai sesuatu sebelum mengambil keputusan haruslah melalui proses perenungan yang matang dan pikiran yang jernih. Namun faktanya, hari ini tidak banyak orang yang mampu menerjemahkan pesan Tuhan yang termaktub dalam kalamnya yang suci. Kebanyakan hanya mampu menjalankan ritual agamanya sesuai kehendaknya sendiri tanpa memikirkan konsekuensi dari ibadah tersebut. Misalnya dalam kitab suci, sifat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang lebih ditonjolkan daripada murka-Nya. Tapi orang-orang lebih mudah mempersepsikan Tuhan sebagai “Penyiksa” daripada “Penyayang”. Cara beragama seperti ini sangat berpotensi menyulut api konflik antar umat beragama. Sehingga tidak mengherankan apabila berbagai macam kerusakan dan kekacauan timbul akibat kegagalan kita menggunakan akal sehat. Kita bisa menyaksikan di depan mata fenomena dan kehebohan yang tengah melanda umat muslim di negeri ini yang mayoritas kuat dalam ibadah ritual. Namun, hanya sedikit yang mampu mewujudkan kebaikan dalam kehidupan sosialnya. Lebih dari itu, bahkan ada yang sampai melakukan hal-hal yang kelewat batas. Hanya karena masalah sepele atau seseorang kebetulan telah menyinggung simbol-simbol agamanya. Memaksimalkan Ibadah Demikianlah kala ego mulai mengusai pikiran dan syahwat kekuasaan sudah merajalela. Maka gerak akal menjadi sempit, sehingga sangat sulit melihat kebenaran dan kebaikan pada diri seseorang yang dibenci, meskipun dia melakukan kebaikan selangit. Beribadah memang sangat penting, tetapi memahami dan menerjemahkan nila-nilai ibadah serta manfaatnya ke dalam kehidupan sosial jauh lebih penting untuk dilakukan. Karena terkadang seseorang lebih asyik dengan ibadah ritualnya tetapi mengabaikan ibadah sosial sebagai konsekuensi dari ibadah tersebut. Sehingga semua aktivitas ibadahnya menjadi kosong dari nilai dan manfaat. Kita bisa mengambil contoh pengamalan ibadah ritual yang begitu intensif dan semarak di mana-mana, namun di saat yang sama perilaku menyimpang berjalan seiringan. Entah karena apa hal tersebut dapat terjadi. Padahal Nabi SAW yang begitu kuat dalam ibadah ritual tetapi tetap memaksimalkan ibadah sosialnya. Sebagai contoh, Nabi sangat mudah memaafkan para pembencinya dan setiap orang yang memusuhi beliau. Bahkan beliau mendoakan mereka agar diberikan hidayah oleh Allah menuju kebenaran. Sebagaimana yang telah beliau lakukan pada sahabat Umar bin Khattab sebelum masuk Islam. Sayangnya, kebanyakan manusia lebih dikuasai sifat egoisme. Terkhusus dalam urusan beribadah. Sehingga apa yang mereka lakukan tidak mendatangkan manfaat bagi orang banyak justru malah sebaliknya. Sebagaimana kata Imam Ali bahwa “Tidak ada agama tidak sempurna agamanya bagi orang yang tak menggunakan akal sehatnya”. Editor Nirwansyah/Nabhan BIYANTO; Guru Besar UIN Sunan Ampel dan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Semua agama mengajarkan pentingnya menjaga keselarasan ibadah ritual dan amal sosial. Jika ada orang rajin beribadah ritual sementara amal sosialnya buruk, sejatinya orang itu tidak memahami substansi ajaran agama secara utuh. Hal itu berarti, setiap orang penting memahami dimensi sosial dari setiap ibadah ritual. Meski ibadah-ibadah ritual itu dilakukan dalam rangka membangun hubungan baik dengan Allah SWT hablun minallah, tujuan akhirnya adalah agar seseorang memperbaiki akhlaknya pada sesama hablun minannas. Pesan ini penting agar tidak terjadi kesenjangan antara ibadah ritual dan amal sosial. Dalam perspektif psikologi ditegaskan, orang yang melaksanakan ibadah ritual dengan baik, tetapi amal sosialnya buruk, berarti dia mengalami kepribadian terbelah split of personality. Dalam perspektif psikologi ditegaskan, orang yang melaksanakan ibadah ritual dengan baik, tetapi amal sosialnya buruk, berarti dia mengalami kepribadian terbelah. Dalam tingkat tertentu, praktik keagamaan model ini tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat. Sebagai contoh, ada orang rajin bersedekah, tetapi setelah ditelisik, ternyata sedekah itu bersumber dari harta hasil korupsi. Orang seperti ini layak disebut sakit mental mental illness. Dalam kasus lain, ada juga orang rajin beribadah ke Tanah Suci. Uniknya, ongkos perjalanan ke Tanah Suci ternyata bersumber dari uang haram. Inilah contoh potret ritual terbelah yang digambarkan Moeslim Abdurrahman dalam On Hajj Tourism In Search of Piety and Identity in the New Order Indonesia 2000. Orang dapat melaksanakan perbuatan baik dan buruk secara bersamaan. Padahal, agama apa pun pasti tidak membenarkan pemeluknya berkepribadian terbelah. Semua agama pasti memerintahkan pemeluknya menjadi orang terbaik dalam pandangan Tuhan dan sesama. Adanya kecenderungan orang memisahkan kesalehan ritual dan sosial juga dapat dibaca dalam penelitian Global Advisor bertajuk Views on Globalization and Faith Juli 2011. Di antara negara yang menjadi sasaran penelitian adalah Indonesia. Padahal, agama apa pun pasti tidak membenarkan pemeluknya berkepribadian terbelah. Semua agama pasti memerintahkan pemeluknya menjadi orang terbaik dalam pandangan Tuhan dan sesama. Pertanyaan penelitian yang diajukan, seputar pentingnya menjalankan berbagai ibadah ritual keagamaan. Umumnya, responden memandang penting menjalankan ibadah ritual dalam kehidupan sehari-hari. Hampir tidak ada responden yang menyatakan ibadah ritual tidak penting. Semua ibadah ritual penting sehingga wajib ditunaikan. Jawaban tersebut sejalan dengan meningkatnya gairah umat untuk beribadah. Termasuk gairah umat beribadah selama Ramadhan. Dalam kondisi pandemi sekalipun, gairah umat untuk beribadah sungguh luar biasa. Gairah umat untuk beribadah juga tampak melalui jumlah antrean calon jamaah haji yang semakin mengular hingga puluhan tahun. Bahkan, di sejumlah daerah antrean jamaah untuk menunaikan ibadah haji lebih dari 30 tahun. Semua fenomena ini menunjukkan, telah terjadi peningkatan religiositas di kalangan umat. Pertanyaannya, jika ibadah ritual dianggap penting, mengapa kasus korupsi yang melanda negeri tercinta terus meningkat? Rasanya tak ada instansi pemerintah yang benar-benar bersih dari kasus korupsi dengan semua ekspresinya. Bahkan, sewaktu-waktu kita juga harus siap dikejutkan dengan insiden operasi tangkap tangan, yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi KPK terhadap pejabat publik. Semua fenomena ini menunjukkan, telah terjadi peningkatan religiositas di kalangan umat. Pertanyaannya, jika ibadah ritual dianggap penting, mengapa kasus korupsi yang melanda negeri tercinta terus meningkat? Selama pandemi, kita juga menyaksikan sejumlah pejabat publik ditangkap KPK karena terlibat kasus korupsi. Karena itulah, tidak mengherankan jika emosi publik begitu membuncah tatkala melihat ada pejabat, yang begitu tega melakukan korupsi di tengah rakyat sedang kesulitan hidup akibat pandemi. Padahal, korupsi merupakan dosa kemanusiaan yang luar biasa besar dampaknya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Lebih ironis lagi, yang dikorupsi itu ternyata adalah dana bantuan sosial, yang semestinya disalurkan untuk masyarakat terdampak pandemi. Pertanyaannya, bukankah pelakunya merupakan pemeluk agama yang semestinya memandang penting dimensi kemanusiaan dari ajaran agamanya? Jawabnya, sangat mungkin mereka memahami ajaran agama secara parsial. Peringatan keras Allah layak direnungkan agar kita tidak termasuk orang yang mendustakan agama. Mereka berpandangan, beragama merupakan urusan pribadi hamba dengan Tuhannya. Mereka juga tidak menyadari, ada keterkaitan antara ibadah ritual dan amal sosial. Pemahaman seperti ini harus diluruskan karena ajaran agama selalu menekankan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan. Ditegaskan dalam Alquran, Allah SWT mengutuk orang yang shalat, tetapi lalai dengan maknanya. Allah juga mencela orang yang tidak tulus riya dan tidak mau menolong orang lain QS Al-Ma’un 5-7. Allah menyebut mereka sebagai pendusta agama. Peringatan keras Allah layak direnungkan agar kita tidak termasuk orang yang mendustakan agama. Para pendusta agama dalam konteks ini adalah mereka yang tidak mampu menyelaraskan ibadah ritual dengan amal sosial. Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya dan menjadi khalifah utusan di muka bumi. Tujuan untuk beribadah mengandung dimensi vertikal hablum minallah, sedangkan kata khalifah mengandung dimensi horisontal hablum minannas. Keduanya tentu saja tak dapat dipisahkan dan memiliki keterkaitan yang tak dapat dihindarkan. Ada yang beranggapan kesalehan ritual yang kaitannya dengan ibadah kepada Allah lebih penting daripada kesalehan sosial. Sehingga hidupnya hanya digunakan untuk fokus pada hablumminallah saja. Secara sosial mereka kehilangan kepedulian pada lingkungan sekitarnya, karena hanya berfikir menjalankan tugasnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Mereka melupakan hakikat tujuan diciptakannya manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi. Padahal Al-Qur’an mengajarkan pentingnya hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia. Ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Hubungan dengan Allah harus terjalin dengan baik, pun demikian halnya dengan hubungan sesama manusia, harus berjalan dengan baik pula. Dengan kata lain, kesalehan ritual-individual harus sejalan dengan kesalehan sosial. Ironisnya, keduanya tidak selalu dapat berjalan beriringan. Tak jarang kita temui orang-orang yang tampak saleh, kerap menunjukkan simbol-simbol agama, tetapi justru menodai agama dengan perilaku tercela. Shalat setiap hari, tetapi korupsi tak pernah berhenti. Haji dan umrah berkali-kali, tetapi abai dan tidak peduli dengan nasib para mustadh’afin, kaum fakir miskin. Rajin mengunjungi majelis taklim tetapi juga rajin menggunjing, memfitnah, menebar ujaran kebencian di sana-sini. Diriwayatkan, seorang sahabat Rasulullah pernah melaporkan bahwa ada orang yang sedemikian tekun beribadah, sehari-hari pekerjaannya di masjid tanpa henti. Nabi kemudian menanyakan siapa yang memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Pertanyaan itu dijawab, bahwa tidak ada. Ternyata, seseorang yang berlebih-lebihan dalam kegiatan ritual itu, oleh nabi sendiri, dianggap keliru. Dijelaskan bahwa, siapapun harus hidup sebagaimana lazimnya, yakni mencari rezeki, mengembangkan ilmu pengetahuan, memenuhi hak-hak keluarganya, dan seterusnya. Maka artinya, kesalehan ritual harus disempurnakan dengan jenis kesalehan lainnya. Juga di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa, orang yang melakukan shalat tetapi lalai akan shalatnya disebut sebagai pendusta agama dan mendapatkan ancaman masuk neraka. Hal ini disebutkan dalam Surat Al-maun فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ. "Maka celakalah orang yang shalat," الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ. "yaitu orang-orang yang lalai terhadap shalatnya," Pun juga sebaliknya, orang-orang yang hanya mengumpulkan dan membangga-banggakan hartanya, tetapi mengabaikan lingkungan sekitarnya yang kekurangan, tidak mempedulikan nasib kehidupan orang miskin dan anak yatim, maka neraka wail adalah tempatnya. Ancaman itu sedemikian berat, namun ternyata tidak selalu memperoleh perhatian. Kebanyakan dari kita hanya sibuk berdiskusi dan membincang tentang shalat khusu' dan berusaha menjalankan sesuai dengan contoh yang dilakukan oleh Rasulullah. Kegiatan tersebut, tentu bukan berarti tidak penting, akan tetapi masih ada lainnya yang juga tidak kurang urgennya, ialah bagaimana kesalehan ritual itu membuahkan kesalehan sosial. Islam dan Al-Qur’an menuntun manusia dalam tiga bangunan hubungan. Pertama, membangun hubungan dengan Allah. Kedua, memperkuat hubungan dengan dirinya dan yang terakhir, menyelaraskan hubungan dengan sesama manusia. Jika menelusuri substansi dari setiap konteks dari teks kesalehan tersebut maka akan lebih terasa dimensi-dimensi sosial yang dikandungnya. Sebagian besar pemeluk agama cenderung menampilkan formalitas ritual ibadahnya untuk menunjukkan jati diri mereka dalam beragama, mereka melakukan ketaatan beribadahnya kepada Allah dengan mengerahkan seluruh kemampuannya dalam melaksanakan ajaran agamanya. Tetapi pada saat yang sama mereka abai, mereka justru meninggalkan esensi ibadah yang sangat berharga dalam kesehariannya, sebuah ibadah yang mempunyai efek nilai sosial positif pada lingkungan sekitarnya. Dalam melaksanakan amal saleh untuk mendekatkan diri kepada Allah, tidak terbatas apa yang ada dalam rukun Islam yang lima saja. Ini menunjukkan bahwa kebaikan seseorang tidak cukup dengan melakukan kesalehan untuk dirinya sendiri. Tetapi akan lebih sempurna ketika ia melakukan kesalehan disamping untuk kepentingan dirinya sendiri, juga untuk kepentingan masyarakat di sekitarnya. Di antara wujud kesalehan sosial adalah lahirnya sikap cinta dan kasih sayang terhadap sesama. Dianggap sia-sia ibadah ritual seseorang, jika tidak disertai dengan ibadah sosial. Rajin shalat jamah di masjid, harus diimbangi dengan rajin sedekah, peduli dengan nasib kaum yang lemah. Rutin mengaji harus disertai dengan rutin berbagi kepada saudara dan tetangga yang membutuhkan. Tekun bermunajat memohon pertolongan Allah harus dibarengi dengan tekun memberi pertolongan kepada orang lain. Aktif mencari ilmu harus diikuti dengan aktif menyebarkan serta menyampaikannya kepada orang lain. Inilah wujud nyata dari kesalehan sosial. Sehingga hadirnya seseorang di tengah masyarakat, dapat memberi arti, makna serta manfaat bagi orang lain di pesan Nabi Saw, خَيْرُ الناسِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain”. HR. Ahmad. Pada akhirnya, kesalehan sosial bertujuan untuk mencapai nilai-nilai sosial melalui gerakan yang bermanfaat bagi masyarakat luas dan merupakan bagian dalam upaya untuk menghilangkan strata sosial yang timbul dari kepedulian sosial dari dalam diri masing-masing. Nurul Badruttamam, Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU Suatu hari Sa’ad bin Abi Waqash menyaksikan peristiwa yang tidak biasa. Nabi Muhammad membagi-bagi sesuatu kepada Arab Badui tapi tidak merata. Ada yang dapat bagian, ada yang tidak. Maka Saad bertanya kepada Rasulullah “Wahai Rasulullah, mengapa engkau beri mereka bagian dan engkau tidak berikan kepada orang itu?, Demi Allah saya menganggap dia itu mukmin sebagaimana yang lain.” Rasul menjawab, “Jangan mengatakan dia seorang Mukmin, tapi katakan dia seorang Muslim.” Peristiwa ini kemudian diabadikan di dalam al-Qur’an قَالَتِ ٱلْأَعْرَابُ ءَامَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا۟ وَلَٰكِن قُولُوٓا۟ أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ ٱلْإِيمَٰنُ فِى قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِن تُطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَا يَلِتْكُم مِّنْ أَعْمَٰلِكُمْ شَيْـًٔا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ “Orang-orang Arab Badui itu berkata “Kami telah beriman”. Katakanlah “Kamu belum beriman, tapi katakanlah kami telah ber-Islam’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. al-Hujurat 12 Dari ayat ini pahami bahwa beragama itu ada tingkatannya, urutan pertama adalah Islam, yang kedua baru iman. Apa itu Islam ? Secara definisi Islam berarti; tunduk, berserah diri dan menyelamatkan. Tunduk dalam arti apapun yang terjadi di alam semesta termasuk manusia ayat tanda atau ayat kauniyah tanda-tanda alam yang menunjukkan akan adanya Sang Pencipta, yaitu Allah dan kekuasaan-Nya, dan alam semesta ini tunduk pada hukum-hukum Allah. Berserah diri bermakna; tidak bisa setengah-setengah. Sebab ber-Islam itu melibatkan seluruh jiwa dan raga. Orang tidak bisa hanya mengikuti salah satu ajarannya dan meninggalkan yang lain yang tidak disukai, tidak bisa juga hanya melakukan ibadah spritual lalu meninggalkan yang ritual. Sedangkan yang dimaksud menyelamatkan adalah orang yang memeluk Islam hidupnya akan selamat dan menyelamatkan orang lain, ini makna dari aslama yang terbentuk dari kata salima. Islam terkait dengan amalan-amalan yang sifatnnya zahir, dimulai dengan syahadat dan diikuti oleh empat rukun lainnya yaitu shalat, zakat, puasa, dan haji. Amalan-amalan itu disebut dengan ibadah mahdhah murni. Dinamakan murni karena ini murni dari Allah dan tidak ada tempat untuk kreasi manusia. Orang Islam dalam hal pengamalan ada tingkatannya. Ada yang ber-Islam yang sekedar mengucap kalimat syahadat saja, tapi setelah itu dia dia tidak menjalankan rukun yang Islam yang lainnya. Adapula yang setelah syahadat hanya hanya shalat saja, ada yang zakat saja, atau hanya suka puasa saja, yang lain tidak dilaksanakan. Ada juga yang sudah melaksanakan semuanya, tapi kehidupan sehari-harinya masih melakukan perbuatan dosa. Disisi lain ada yang sudah mengerjakan semua rukun Islam, tapi tingkatannya hanya sekedar menjalankan kewajiban dan biasanya disertai rasa berat hati dan keluh kesah. Ada pula yang masih tidak konsisten dalam menjalankan shalat, kadang shalat kadang tidak. Dalam urusan shalatnya misalnya, shalat yang seharusnya berfungsi untuk mencegah perbuatan maksiat, tapi tidak seperti itu kenyataanya. Raganya shalat, tapi lisannya masih suka berbohong, tangannya berbuat zalim, korupsi, mencuri, tidak amanah, bahkan membunuh. Ketika berzakat harapannya bukan mencari ridha Allah, tapi agar dipuji oleh orang banyak riya’. Puasa Ramadhannya hanya menahan lapar dan dahaga siang hari di bulan Ramadhan, tapi ketika Ramadhan berlalu, berlalu pula ketaatannya kepada Allah. Hajinya pun demikian, rasa kepekaan sosialnya tidak bertambah. Dia berangkat haji, tapi disaat yang sama tetangganya kelaparan, butuh bantuan dan dia tidak peduli. Dalam kata lain, semua ibadah-ibadah mahdhah diatas tidak mempunyai pengaruh apapun baik secara pribadi, terlebih sosial. Hanya sebatas ritual yang menggugurkan kewajiban, tidak lebih. Itu semua adalah contoh manakala ber-Islam kita tidak dibarengi dengan keimanan. Bagaimana Beragama Pada Tingkat Iman? Iman itu mengandung makna keyakinan dalam hati, ikrar dengan lisan dan yang terpenting adalah pengamalan dengan anggota tubuh alias perbuatan. Ber-Iman bisa diibaratkan seperti orang yang mencintai. Cinta adalah pekerjaan hati. Jika seorang mencintai maka ukuran cintanya adalah perbuatan. Orang yang mencintai sesuatu pasti ingin melakukan apa saja agar yang dicintai senang, dan dia berusaha untuk meninggalkan apapun agar yang di cintai tidak murka kepadanya. Ber-Iman kepada Allah dan Rasul-Nya berarti mencintai Allah dan Rasul-Nya. Seorang mukmin, jika dia mencintai Allah dan Rasul, pasti dia tidak akan melakukan apapun kecuali untuk keridahaan Allah; dia tidak juga mengerjakan apa yang Allah benci. Bahkan dalam kehidupannya dia tidak mencintai atau membenci siapa atau apapun, kecuali karena Allah memerintahkan hal itu. Iman itu sebagaimana yang disebut dalam hadits Rasul tujuh puluh atau enam puluh lebih cabang, semua itu membentuk sebuah kesatuan yang sering kita sebut dengan amal shalih. Contoh amal shalih yang merupakan cabang dari itu iman itu seperti; meninggalkan riba, jujur, baik dengan tetangga, bakti kepada orangtua, menegakaan pemerintahan yang adil, amar ma’ruf nahyi mungkar, menghindari sikap boros, mendidik anak-anak dengan baik, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan masih banyak lagi. Jadi, orang yang beriman dengan sempurna pasti orang baik, karena keimanannya kepada Allah dibuktikan dengan semua perilakunya, dia tidak mungkin berbuat jahat kepada siapapun. Baginya perbuatan jahat itu adalah dosa, dan setiap dosa pasti membawa dampak buruk bagi imanannya. Orang ber-Iman pasti Islam. Tapi orang Islam belum tentu beriman. Artinya, bisa saja secara fisik zahir seorang itu memang kelihatan rajin shalat, membayar zakat dan puasa. Tapi hatinya belum tentu tunduk dan taat pada aturan Allah. Banyak aturan Allah yang dia terjang tanpa rasa bersalah, nafsunya masih dijadikan kompas penuntun mengarungi kehidupan. Kemajuan Bangsa Barat dan Konsep Dasar Islam Ada kisah menarik dari seorang ulama dan intelektual Muslim, namanya Muhammad Abduh. Pada tahun 1884 beliau berkesempatan mengunjungi Kita Paris- Prancis. Pada waktu itu Paris telah menjadi kota yang teratur rapi, indah dan bersih. Penduduknya memiliki etos kerja tinggi atau pekerja keras, ramah terhadap tamu, bersahabat dan negaranya berkembang maju. Dari kunjungan ini Muhammad Abduh berkesimpulan untuk mencoba membandingkan dengan kondisi kaum muslimin, beliau berkata; “Ra’aitu al-Islam wa lam ara Musliman wa ra’aitu al-Muslimin fi al-Arab wa lam ara Islaman”, artinya “Aku melihat Islam di Paris tapi aku tidak melihat orang Muslim disana, dan aku melihat Muslim di Arab negara Islam tapi aku tidak melihat Islam di sana”. Maka pertanyaan besar yang kemudian muncul di benak kita, kenapa realita kaum muslimin hari ini jauh tertinggal dari bangsa Paris, atau Barat secara umum? Jawabannya, apa yang orang-orang Prancis lakukan semuanya ada pada cabang iman yang tujuh puluh itu, yang menjadi konsep dasar bagi seorang muslim. Masalahnya, realitas kualitas ibadah umat Islam masih di taraf Islam belum Iman. Kalaupun menyatakan ber-Iman itu baru sebatas pengakuan saja. Jika seorang mukmin beragamanya sampai pada tingkatan iman, maka dengan mengamalkan cabang-cabang keimanan yang jumlahnya tujuh puluh itu dalam kehidupan sehari-hari dan menjaga konsistensi keimanan itu, maka mustahil umat Islam lemah, miskin, tertindas. Tidak mungkin juga orang Islam menjadi perusak lingkungan, berbuat zalim, berselisih antar sesama. Maka ketika kita, kaum muslimin ingin bangkit mengejar ketertinggalan, kita hanya’ perlu kesungguhan dalam mengamalkan Islam dibarengi dengan dengan penghayatan iman, tidak perlu silau dengan ragam ideologi diluar Islam. Wallahu a’lam bi ash-shawwab. Baca Juga Hak-Hak Buruh dalam Islam

mengapa ibadah ritual harus sejalan dengan ibadah sosial